Sweet Cupcakes
  • Home
  • Cerita Cici
  • Social
  • Features
  • Travel
  • Contact Us


Mengenali, sebelum ku terikat denganmu lebih jauh..
Mengagumi, sebelum rasamu berubah menjadi rindu..
Dan, memiliki adalah hal yang mustahil bagiku..

Oleh: Yunita Cahyani Pratiwi

            Rasa kecewa masih membekas jelas diingatanku, dikala ia pergi tanpa sebab dan kini menyisakan luka teramat dalam. Aku mulai menyerah dengan perjalanan cintaku yang semakin rumit. Ku pasrahkan Allah SWT menggiringku kepada Takdir yang Ia tentukan. Disela sujud, selalu ku selipkan do’a untuk lelaki yang masih menjadi rahasia. Pertemukanlah aku dengan dia yang dapat membimbing disetiap langkahku yang tertatih, menasehati dikala aku salah memahami, menemani saat aku sepi, dan mencintaiku dengan penuh ketulusan hati. Dan jika Engkau berkenan, satukanlah kami dalam ikatan yang suci.
            Satu yang menjadi keyakinanku saat ini, lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Begitupun sebaliknya. Sehingga aku memutuskan untuk berhijrah memperbaiki diri, semoga Tuhan berbaik hati menjodohkan dengan seseorang yang lebih baik lagi. Tidak butuh waktu lama bagi Tuhan untuk menjawab doa hambaNya yang Ia kehendaki. Dan benar, seseorang dikirimkan untuk membuka lembaran kisah baru untukku. Tak ku duga dan aku pun tak pernah membayangkan. Sebuah pesan singkat datang menghampiri. Dengan penuh rasa penasaran aku mulai mengajukan pertanyaan. Dan ternyata lelaki itu datang dengan niat baik. Seraya berkata padaku untuk berjuang bersama ke masa depan dan saling menasehati dalam kebaikan.
Sempat terpikirkan bahwa aku tidak pantas untuknya, bukan tipe dia yang sesungguhnya. Aku hanyalah wanita akhir zaman yang penuh kekurangan. Sedangkan ia lelaki yang terkenal saleh dan tak banyak bicara jika tak diminta. Setauku, tak banyak wanita yang dia dekati. Masya Allah, aku menjadi salah satu wanita yang bersemayam dihatinya. Perasaan berbaur menjadi satu tak menentu. Dilain sisi, aku merasa rendah dan satu sisi lagi aku merasa bahagia. Bagaimana tidak, aku pernah mengaguminya secara diam-diam. Jauh sebelum perasaan ini datang menyapa. Meski beberapa wanita disekitarku juga ikut mengagumi, aku memilih untuk tidak terlibat jauh karena sadar aku hanya wanita biasa. Tak ada yang istimewa.
Malam itu kini mematahkan segala argumentasi bahwa tak ada yang mustahil bagiNya. Aku pun percaya kekuatan doa yang aku panjatkan. Dengan kemantapan hati, aku memutuskan untuk bersamanya. Tak perlu waktu untuk masa pengenalan bagi kami karena kita bukan orang baru yang tak saling mengenal. Aku telah mengenalnya, jauh sebelum kita terikat oleh rasa. Sempat terlibat dalam beberapa aktivitas organisasi memudahkanku untuk menerima karakternya. Aku mencintai kepribadiannya, mengagumi setiap pemikirannya yang visioner, dan menyukai sikapnya yang penuh tanggungjawab. Aku selalu memandangnya sebagai dirinya sendiri meski terkadang aku terus menyebutkan orang lain yang aku kagumi dihadapannya. Tak ada niat untuk menjadikanmu seperti dia. Maafkan aku yang membuatmu membandingkan diri dengan seseorang yang bahkan aku sendiri belum pernah bertemu.
Terima kasih telah hadir menyapa membawakan cinta. Aku berharap, kedatanganmu adalah jawaban atas doaku. Mencintaimu, tidak pernah ada dalam rencana hidupku. Namun, pada suatu hari dengan alasan yang masih belum aku pahami. Tuhan menempatkanmu, menjadi bagian terbaik dihati dan ingatanku. Jadi, ketika nanti kamu menanyakan alasan mengapa aku bisa sejatuh ini dalam mencintaimu, maaf aku tidak bisa menjawabmu. Sebab sampai hari ini pun, sudah berusaha aku mencarinya, tidak ku temukan jawabannya. Aku hanya berharap perasaan terbaik dan terburukku dalam mencintaimu tidak pernah merepotkanmu.
Kita baru saja memasuki gerbang menuju tantangan dunia yang nyata. Oleh karena itu, aku tidak ingin membiarkanmu sendiri menghadapinya. Izinkan aku di sampingmu, memberimu dukungan meski itu hanya akan membangkitkan semangatmu bukan menyelesaikan masalahmu. Karena aku ingin kita bersama mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Tidak membiarkan salah satu diantara kita diam dan meratapi. Semoga perjalanan sulit ini, menjadi sesuatu yang dinilai kebaikan oleh Tuhan. Aku ingin dipercaya Tuhan untuk menjadi seseorang yang akan bersamamu membangun bahtera cinta di masa depan.
Teruntuk hatimu yang terdalam,
Izinkan aku untuk bisa memilikimu seutuhnya.
Izinkan aku menjadikanmu rumah, tempatku jatuh cinta sepanjang masa..


Seusai KKN, mau tidak mau kita harus beranjak pada realita dunia perkuliahan. Apalagi tantangan penyusunan skripsi sudah didepan mata. Persiapanku saat itu belum begitu matang. Belum ada judul penelitian yang menetap di pikiranku. Asli galau tingkat dewa. Kekhawatiran akan penolakan penelitian telah terbayang dibenakku. Akhirnya, ku putuskan untuk mendatangi beberapa dosen untuk dimintai saran tentang judul penelitian. Sebenarnya, saya mau mencari topik penelitian sendiri dengan ekspektasi yang tinggi. Namun, mengingat saya mahasiswa yang mesti kejar target karena telat setahun. Sebabnya sih karena pernah kuliah di universitas negeri yang berbeda kemudian daftar ulang dan lolos di universitas ini. So, I must get penelitian yang sederhana dan tidak memakan waktu lama. 
Setelah menimbang dan seterusnya, saya kemudian memutuskan untuk mengambil penelitian di bidang kimia farmasi. Bidang ini cukup saya senangi. Pernah menjadi mata pelajaran yang begitu saya gemari. Penelitian ini tentang pengujian aktivitas enzim yang dihambat oleh suatu senyawa fucoidan dan karagenan. Mungkin beberapa orang sudah tidak asing dengan kedua senyawa ini. Bagi yang belum tau, kedua senyawa ini banyak ditemukan dalam rumput laut. Fucoidan khususnya ditemukan di rumput laut coklat sedangkan karagenan banyak di rumput laut merah. Nah, keistimewaannya kedua senyawa ini telah terbukti mengandung banyak sekali manfaat. Salah satunya ternyata dapat menurunkan kadar gula darah setelah makan. Pernah dilakukan pengujian terhadap hewan coba dan hasilnya positif dapat menurunkan glukosa darah. Kemudian dari pengujian itu saya kembangkan untuk melakukan uji secara kimiawi (in vitro). Pengerjaannya juga tidak begitu lama dan bahan-bahannya pun sudah tersedia. Sehingga saya tertarik untuk mengujinya.
Secepat mungkin saya menyusun latar belakang dan komponen-komponen lain penyusun pendahuluan dan metode kerja. Setelah itu saya konsultasikan kemudian direvisi dari satu pembimbing ke pembimbing yang lain hingga diperoleh tanda ‘ok’. Bukan perihal yang sesingkat itu. Tetapi banyak pengalaman dan pelajaran yang kita alami selama proses tersebut. Dari mulai harus mencari jurnal yang tepat, menunggu pembimbing sampai datang ujung-ujungnya disuruh nunggu lagi sampai besok karena saya datangnya kesiangan.  Rutinitas ini cukup menguji kesabaran juga. Meski begitu, pandai-pandailah mengalihkan perhatian dengan ngobrol atau jalan-jalan atau makan makanan kesukaan supaya pikirannya rileks tidak tegang, dan yang terpenting tidak mudah stress. 
Tanda Acc pun telah menghiasi sampul depan proposalku. Pada saat itu mungkin saya mahasiswa yang sedikit beruntung bisa seminar karena pendaftaran seminarnya sudah mau tutup dan harus antri karena banyaknya yang mendaftar. Oleh karena banyak permintaan, akhirnya jadilah seminar diadakan diluar hari yang ditentukan. Dan saya mendapat giliran untuk mengisi seminar tersebut. Asli menegangkan. it’s the first time. Saya mempersentasikan proposal di depan dosen. Biasanya sih Cuma di depan teman-teman atau adik-adik. Jadinya, tingkat ketenggangannya itu berbeda. Apalagi saat itu kesehatan saya kurang baik. Saya diserang dengan bejibun pertanyaan. Bersyukur saat itu saya bisa menjawab pertanyaan meski dirundung nyeri pada kepala dan ulu hati. Finally, Alhamdulillah saya bisa melewati seminar tersebut dengan lancar dan menuju tahap selanjutnya. Setidaknya saya telah melakukan pergerakan pada satu semester itu menjadi selangkah lebih dekat menuju sarjana.

 
Mahasiswa seminar proposal bersama

                                                            Rekan K.A. L. Biofartoks :)

                                                        Enzim's Squad sekutuan penelitian.

“Apakah sama seseorang yang menikmati cinta dalam diam dengan seseorang yang menikmati cinta dengan seutuhnya? Tentu tidak! Namun bukan berarti seseorang yang menikmati cinta dalam diam tidak seindah menikmati cinta dengan seutuhnya”, -Panji Ramdhana_

Terpendam. Begitulah setiap detik rasa yang tercipta untukmu. Hanya bisa menetap didasar hati. Menumpuk membiarkannya mengendap. Tak ada gelombang yang mampu membawanya ke permukaan. Kadang goyah oleh guncangan namun masih terombang. Rasa yang bermetamorfosa hanya bisa ku sembunyikan dalam diam. Meski hari kian menambah kegelisahan. Tak seperti kebanyakan insan yang berharap akan dipahami. Aku khawatir, kau akan mengerti.

Langkah yang terus menapaki temu, bisa menipu. Namun, mata yang memandang khawatir kan memancarkan sinyalnya. Bahwa ada kerinduan tiap kali melihatmu. Akan ku sampaikan tiap titik rindu yang terlukis itu dalam doa. Sebab hanya lewat doalah, caraku menyampaikan rindu untukmu. Beginilah aku menikmati cinta. Dalam kesetiaan menjaga sepi, diam, dan bungkam. Tak ada daya bagiku mengungkapkan. Karena cinta tentang hati yang mudah terbolak-balikkan waktu jika hanya sekedar diadu. Biarlah sepotong hati ini mengadu padaNya. Berharap kuasaNya mampu meneguhkan hati untuk memberi ruang istimewa dalam dirinya. Bersabarlah dengan keyakinan.

Jangan bertanya kapan aku mulai mencintainya, karena aku pun enggan tuk menjawab. Hati ini milikNya. Dialah yang berkuasa atas rasa yang hadir padaku. Mungkin rasa ini juga dititipkan atas munajat doa yang kamu panjatkan atau sebaliknya. Percayalah, aku menikmatinya meski dalam diam. Kesendirian yang mewarnai hariku bukan alasan untuk mendambakanmu. Aku ingin bersamamu dengan keridhaan. Hingga waktu itu tiba, aku akan tetap disini. Menunggu. Menjaga hatiku untuk tetap seperti ini. Teruslah berdoa dan teguhkan hatimu. Kesabaran kita akan mengantarkan pada hakikat yang indah. Percayalah penantian…



Insting seorang wanita itu kuat terhadap pasangannya. Barangkali aku bisa membenarkan kalimat itu. Aku tak mampu lagi membendung perasaan curigaku terhadapmu. Bukan aku tak mempercayai tetapi yakinlah kecurigaanku ini bagian dari perasaan yang tak ingin kehilanganmu. Maaf untuk sikapku yang berlebihan. Semoga kita masih bisa menjaga keutuhan hubungan ini dengan komunikasi yang baik. Jangan memendam jika kamu tidak suka dengan apa yang aku lakukan. Jangan kamu terima begitu saja apabila hatimu menolak. Bicaralah, dengan cara yang terbaik kepadaku. Sebab kita masih belajar untuk saling memahami. Adapun sikapku yang berlebihan mungkin secara perlahan bisa aku perbaiki. Aku tidak ingin kamu membohongi kata hatimu. Meski itu pahit, bicaralah!.

Entah berapa kali kamu pernah berkata dusta, membuat aku dengan kepolosanku memaafkan semuanya. Aku hanya tidak ingin membiarkan hal-hal negatif merasuki otakku dan mengendap disana.  Meski insting ini jauh lebih kuat dibandingkan pernyataanmu. Aku akan tetap berpihak kepadamu. Terkadang satu pihak memang harus lebih ringan agar hubungan itu tetap seimbang. Ketahuilah, aku bertanya untuk kamu jawab dengan kejujuran. Bukan dengan kebohongan yang kamu ciptakan. Agar hatiku terjaga dari rasa sakit atau sekedar untuk melindungi perasaanmu yang kini telah merapuh. Karena akan tiba saatnya kebohongan kecil akan melahirkan kebohongan lainnya. Jujurlah dengan segala kerapuhan hatimu. Katakanlah bahwa hatimu tak lagi seperti dulu. Meski itu pahit, bicaralah!

Kamu adalah lelaki yang baru beberapa bulan aku kenal. Mungkin aku belum memahami sifatmu begitu dalam dan begitupun kamu kepadaku. Kita akan terus belajar memahami satu sama lain. Kita bisa saling melengkapi setiap hal yang menjadi kekurangan. Dan menjaga apa yang menjadi kelebihan. Satukan impian kita untuk membangun masa depan bersama. Kokohkan hati dari segala hal yang akan melemahkan. Sungguh ujian itu akan datang merayumu untuk menyerah. Apabila ia kelak menghampiri maka kita akan mencari jalan terbaik. Berkomunikasi dengan baik untuk mencari solusi. Itulah alasan kita harus bersikap tenang dalam menyikapi masalah. Namun, ketika hatimu mulai merapuh. Biarlah aku menuntunmu untuk tetap tegar dengan sisa-sisa hati yang ada.  Kamu hanya perlu menjaga. Hingga jika suatu saat nanti, hati itu tetap merapuh, mungkin saatnya untuk berhenti dan berharap petunjuk pada ilahi.


Bukan aku tak ingin mengenalmu meski kita cukup dekat. Hanya saja kau tak pernah terlihat oleh sudut pandanganku. Aku pun tak pernah merencanakan untuk menjalin hubungan dekat seperti yang tengah kita jalani. Secara tiba-tiba kamu hadir dalam kehidupanku. Seakan waktu yang mengatur sehingga kita dipertemukan. Pertemuan yang diawali dari sebuah perkenalan singkat melalui pesan obrolanmu. Hingga kamu dan aku sepakat untuk menjalin sebuah hubungan dengan tujuan yang serius. Aku berusaha memahami sifatmu yang masih asing bagiku. Begitupun kamu, yang senang hati menerima duniaku dengan segudang kesibukan. Sesuatu yang mungkin terbilang baru bagimu. Aku suka bergaul dengan orang banyak, namun tidak dengan berbicara banyak dengan mereka. Dilain sisi dalam diriku menyimpan sepi yang hanya bisa kunikmati sendiri. Hingga kadang aku tak pandai untuk melukiskan perasaanku. Aku lebih suka mengungkapkannya melalui kata yang merangkai kalimat dalam sebuah tulisan. Sementara kamu bersifat sebaliknya. Kamu lebih suka berbicara lepas tentang dirimu, keluargamu, atau perasaanmu. Dan aku lebih memilih mendengarkan celotehanmu dengan kedamaian. Ada kenyamanan yang tersirat disana. 

Seringkali kita diperhadapkan dengan batu besar ketika tengah belajar keras untuk saling memahami. Aku mengalami kesulitan dalam memahami duniamu dan kamu pun tak begitu paham duniaku. Bahkan aku dan kamu sempat berdebat satu sama lain. Dan aku lebih memilih mengalah agar hubungan ini tetap terjaga. Hal yang aku sukai darimu, karena kamu tak pernah mempermasalahkan itu lebih dalam. Sikap kedewasaan yang jarang aku temui. Kamu kembali menakjubkanku dengan mengunjungi kedua orangtuaku di rumah. Sesuatu yang wajar bagi hubungan dengan tujuan yang jelas. Setiap kali aku merasa bimbang, aku selalu terbayang dengan sikapmu ini. Kepercayaan terhadap perasaanmu kini bertambah. Waktu yang menautkan hati kita. Banyak hal yang dapat ku pelajari bahwa hubungan yang serius butuh modal keberanian untuk memperjuangkannya. Bahwa ke depannya akan kita temui dua keluarga dengan dunia yang berbeda. Dengan kita membuatnya bersatu dalam ikatan yang harmoni. 

Sempat aku bermimpi untuk bersama dengan seseorang yang seprofesi denganku. Namun, Tuhan mempertemukan kita. Kamu dengan profesimu yang berbeda. Bukan orang yang bergelut di dunia kesehatan sepertiku. Bukan seseorang yang suka menghabiskan waktunya dengan buku klasik tebal. Satu hal yang menyamaiku denganmu bahwa kamu juga suka dengan aksara. Sesuatu yang memberi warna dalam hidupku. Meski kamu tak begitu mendalami setidaknya kita sama. Tak peduli seberapa banyak perbedaan antara kita berdua. Kamu dan aku dengan pekerjaan yang berbeda, hobby yang berbeda, dan kecintaan yang tak sama. Kita hanya butuh saling menghargai dan belajar memahami satu sama lain. Karena kita diciptakan untuk saling melengkapi bukan untuk saling menyatukan. 

Saat ini kita sepakat untuk menjaga hati dari banyaknya godaan yang menerpa. Kita meyakini bahwa suatu hari nanti semesta akan menyatukan kita bersama dengan buah harapan yang telah kita tanam. Meski terkadang masih sulit bagi kita memahami dunia kita masing-masing. Satu hal yang perlu kita yakini dan tanamkan dalam hati. Percayalah bahwa kekuatan hati kita jauh lebih besar. Selama rasa kasih sayang ini masih melekat dalam jiwa, kita harus mampu menjalani rintangan yang ada. Demi masa depan yang diimpikan. Semua tentang aku dan kamu, tentang kita.


Jika seorang penyair mampu mengungkapkan kegundahan melalui syairnya, aku mampu mengungkapkan kegundahanku melalui linangan air mataku. Aku rindu akan dirinya, namun aku takut jika rinduku pada-Nya tak lebih besar lagi. Maka air mata ini menjadi tangis rindu serta doa untuk yang terbaik bagimu yang kurindu. Ya Rabb, jika memang ia kau pilihkan untukku nantinya, biarlah ia disana dan aku disini. Biarlah terhijab oleh jarak ini, biarlah terhijab oleh malu ini. Rabb, hatiku benar-benar berharap penjagaan-Mu.

Manalah yang lebih kupilih selain menjaga kebaikan keduanya. Memang terasa berat dengan sedikit memudarkan lamunan. Memang terasa sedikit menyayat hati ketika mencoba menghapus kerinduan. Namun itulah pilihan. Namun itulah jalan. Kupilih karena aku mencintaimu.

Ya benar aku merindumu. Ya benar aku berharap akan dirimu. Namun apa daya kuasa tak ditanganku. Biarlah Allah memilihkan dirimu atau siapapun sebagai pemilik cinta ini. Janganlah kecewa, Allah akan pilihkan yang terbaik untuk kita. Bahkan mudah bagi Allah untuk menyatukan kita. Jangan khawatir, insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Bersabarlah…

Saat ini memang rasa ini masih membuncah dan bergejolak. Dan, ya inilah masalah hati yang tak bisa dipahami oleh orang lain. Bahkan diriku sendiri. Namun aku bersyukur karena Allah menganugerahkan rasa suci ini kepadaku. Tentang dirimu? Hanya Allah-lah yang tahu…
Postingan Lama Beranda

About Author

Cici

Pharmacist, Books addict ;)

Sebuah blog pribadi tanpa ada niat ingin mendustai, tulus hanya untuk berbagi

Instagram

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Instagram

Copyright © 2017 Sweet Cupcakes. Created by Akmal