Scout in Memorian (detik-detik terakhir putih biru di penjara suci Kami ^^)

[caption id="attachment_9" align="alignnone" width="711"]detik-detik terakhir putih biru di penjara suci Kami ^^ detik-detik terakhir putih biru di penjara suci Kami ^^[/caption]

Hari ini adalah hari terakhir kami berkemah di SMP 4 Ko’mara. Salah satu daerah yang terletak di kabupaten takalar. Tak terasa sudah 5 hari kami menjalankan berbagai kegiatan perkemahan disini. Haripun mulai gelap, aku dan kawan-kawan melaksanakan salat magrib berjamaah. Malam ini tidak ada kegiatan yang kami lakukan tapi tidak dengan Para Pembina. Tepat jam 11 tengah malam mereka berkumpul mengadakan rapat bersama di gedung aula SMP 4 untuk membicarakan agenda terakhir esok hari.

Aku dan teman yang lain memutuskan tidur lebih awal karena rasa lelah yang begitu besar. Tidak lama setelah kami tidur, kami dibangunkan secara paksa. Ternyata telepon genggam milik kak Aswad hilang dan mereka mencurigai salah satu dari kami yang mengambilnya. Kami pun sontak kaget maka dilakukanlah penggeladahan. Setelah dilakukan penggeledahan, telepon genggam itu ditemukan didalam tas salah satu rekan kami. Pemilik tas itu bernama uky yang tidak lain adalah sahabatku. Aku tak pernah menyangka dia melakukannya. Aku mengenalnya begitu baik dan tak mungkin dia melakukan perbuatan yang tidak baik itu.

“aku tidak menyangka dek, kamu berani mengambil hp kakak pembinamu sendiri. Kurang baik apa kami selama ini dek?!”, tanya kak Ayu sambil membentak dihadapan uky"

“kalau memang sikapku kurang baik bukan begini caranya. Saya kira kita semua tahu kalau mencuri itu haram. Aku kecewa dengan kalian semua!!” bentak kak Aswad sambil menendang kursi yang ada dihadapannya. Suasana menjadi tegang. Tak satupun yang berani bicara. Bergerak sedikit sajapun sulit"

Aku merasakan Something Wrong in here tetapi aku tidak tahu apa itu, pikiranku sulit untuk bekerja sama saking shocknya. Ku tatap raut wajah uky, diam sambil menatap kearah lantai. Menunduk. Wajahnya pucat. Jelas itu bukan wajah merasa bersalah karena telah mencuri.

Tepat jam 12 tengah malam kami diperintahkan berbaris tanpa menggunakan alas kaki. Mereka tidak mengizinkan kami untuk melanjutkan tidur di ruangan. Itu sebagai hukuman akibat dari perbuatan kami. “satu berbuat semua dapat” itu adalah komitmen mereka. Mereka menyuruh kami tidur didalam hutan yang gelap, angker, dan menyeramkan. Dengan kaki tak beralas Kamipun memulai perjalanan. Rasa kantuk yang kuat, jalanan yang berduri melengkapi penderitaan kami malam ini.

Sebuah sungai kecil dengan air yang cukup deras menghentikan perjalanan kami. Aku dan teman-temanku bingung. Haruskah kami melewati sungai yang deras ini? Namun seakan tak peduli dengan kekhawatiran kami. Pembinaku membentak kami. “Ayo terus jalan!! Kenapa berhenti!”

Kamipun bergotong-royong sambil berpegangan menyeberangi sungai itu. Sesampainya diseberang, kami dibawa ke sebuah tempat mutilasi dan tulang-belulang mereka dikubur disana. Di tempat itu terdapat banyak bukit, itu bukan bukit biasa melainkan   anggota tubuh manusia yang dikubur. Hawa dingin serta raungan anjing menambah ketakutan kami saat itu. Aku yang pada saat itu berada pada barisan belakang merasa was-was. Halusinasi memenuhi otakku. Perjalanan dihentikan dan kami diperintahkan untuk membuat lingkaran mengelilingi lubang  kecil yang dipenuhi air. Ditengah lubang itu terdapat sebuah batu. Diatas batu itulah kami memecahkan botol-botol yang diberikan oleh Pembina kami. Konon katanya itu merupakan ritual penghormatan agar penunggu di tempat itu tidak merasa terganggu.

Setelah itu kami berjalan menuju lahan sawah yang kosong yang dipenuhi jerami lembab disekitarnya yang membentuk gunung-gunung jerami. Disana rencana kami akan tidur hingga pagi menjelang.  Bersyukur hal itu tidak terjadi. Salah satu rekan Pembina yaitu kak Aldi menghampiri kami. Ia mengatakan kami harus bergegas pulang karena kaki kak Ayu mengalami luka serius sewaktu perjalanan pulang. Akhirnya kamipun berbaris pulang. Namun penderitaan kami belum berakhir. Kami diperintahkan berjalan menuju kelas satu per satu dengan mata tertutup. Hatiku seakan ingin menangis. Aku takut, aku tidak bisa dalam kegelapan, aku khawatir, aku cemas, dan aku tidak tau harus berbuat apa sekarang. Untunglah aku dituntun oleh kak Iwan dan Iyan.

Dengan mata tertutup mereka menuntunku pulang. Sepanjang perjalanan aku merasa seperti orang bodoh. Mereka berdua tidak begitu saja membiarkanku melewati jalan pulang dengan tenang. Kak iwan memberi instruksi, “melompat tiga kali ke depan, sekarang”. aku bingung dan bertanya, “buat apa kak?”. Kak Iyan yang tadinya diam menjawab, “di depan adek ada tiga gundukan tanah tempat dikuburkannya potongan-potongan tulang korban mutilasi. Jadi melompat yang jauh!” mendengar hal itu, aku tidak banyak berfikir lagi. Aku melompat, melompat dan melompat. Instruksi berikutnya berjalan sepuluh langkah ke depan dan melompat, lima langkah dan melompat. Aku laksanakan semuanya tanpa bertanya lagi. Hingga aku diperintahkan untuk berhenti dan ternyata instruksi itu masih ada.

Kak iwan memerintahkan untuk melompat ke dalam lubang tempat awal kami memecahkan botol. Aku menolak. Aku berfikir pecahan bening itu pasti masih ada dan bisa saja melukai kakiku. Itu bukan resiko yang kecil. Aku bersikeras menolak. “aku tidak bisa kak” kataku. “Adek harus melompat kalau tidak kamu tidak bisa pulang. Kamu mau tetap disini sendirian sampai pagi?” jelas kak Iyan. Aku berpikir dan menimbang. Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba melompat tetapi masih dengan keraguan. Aku melompat!! Yah, aku melompat ke dalam lubang. Tidak!! Tidak sepenuhnya ke dalam lubang. Lompatanku ternyata terlalu kecil dan aku hanya melompat ke pinggirannya saja. Kak Iwan membentak, “ayo melompat lagi!! Melompat yang jauh!!”.

Aku menyerah!! Aku takut dan aku tidak bisa! Beruntung mereka berdua bisa mengerti. Aku dibebaskan dan dibiarkan pulang. Lega terasa didada.  Huff..

Setelah ku buka tutup mataku, aku berjalan menuju kelas. Aku menoleh kearah lubang itu dan bertanya kepada kak Yufi yang berdiri memandangku dengan tawa. “kakak apa benar lubang itu lubang tempat kami memecahkan botol?” tanyaku. Dengan senyum-senyum dia menjawab, “bukan adek. Itu lubang yang baru saja kami buat. Lubang yang tadi ada di sebelah sana. Ehhee”. Sudah ku duga tetapi aku tetap tidak berani. Aku memang penakut.

Akhirnya akupun sampai di kelas dan bergabung dengan teman-temanku yang lain. Setelah semua pembinaku dan kami sudah berada dalam  kelas. Kamipun saling berbagi cerita tentang perjalanan kami pulang. Kak iyan berdiri menghadap kami sambil tersenyum. Ia mewakili teman-temannya meminta maaf kepada kami atas sikap kasar mereka malam ini. Ternyata semua ini adalah rekayasa mereka untuk membuat perkemahan ini lebih bermakna. Meskipun ada rasa kesal mendengar itu semua tetapi kami tetap memandangnya positif. Kejadian ini tak akan pernah terlupakan dalam benakku. Kenangan berkemah bersama para senior tarbiyah yang mengesankan.

By_(Azima As-shiddiq)

Share:

0 komentar