SEBATAS DONGENG MASA LALU




Tak terhitung berapa kali ponselku berdering, pagi ini. Panggilan masuk dengan nomor yang sama. Silvie tak henti-hentinya menelponku. Dia memang gemar menelpon. Meskipun itu hanya sekedar menyapa. Tapi kali ini sepertinya ada sesuatu yang penting.
            Terlihat dosenku masih menerangkan di depan kelas. Aku tidak mungkin menjawabnya sekarang. Akhirnya, ku biarkan saja sampai ia berhenti. Waktu kuliah pun usai, belum sempat aku beranjak dari tempat dudukku ponselku kembali berdering. Silvie memanggil.
“iya, kenapa sil?”
“aduh Angelina, gimana sih? Daritadi aku telponin nggak diangkat.”
“ya maaf, ini aku baru selesai kuliah. Emangnya ada apa sih? Penting banget.”
“eh, kita ke kampus kak Yufri yuk? Katanya sekarang dia lagi ada event disana.”
            Sudah beberapa tahun memang kami tidak bertemu Kak Yufri. Dia adalah seniorku sewaktu SMP yang baik hati. Dia sering mengajari kami bagaimana belajar hidup di alam. Tetapi, mendengar kampusnya aku menjadi berubah pikiran. Aku sudah mengancam diriku untuk tidak kesana. Pergi ke tempat itu sama saja menganiaya diriku sendiri. aku lantas mencari alasan.
“oh ya? E, tapi Sil, kayaknya aku ada rapat deh sebentar. Jadi maaf aku nggak bisa.”
“alah, kamu ini banyak alasan deh. Bukannya hari ini kamu free dari aktivitas organisasi? Ayolah, sekali aja. aku tunggu kamu di parkiran fakultas ya. Nggak pake lama.”
“tapi Sil. Aku...” belum sempat aku melanjutkan, ia sudah memutuskan panggilan. Dengan sangat terpaksa aku pun ikut ajakan Silvie.
            Kami akhirnya melaju menuju kampus Kak Yufri yang letaknya tidak jauh dari kampus kami. Dalam hati aku terus bergumam, semoga saja aku bisa tegar melihat teman-temanku yang kini kuliah disana. Sedikit merasa trauma dengan kegagalan masa lalu.
            Selang beberapa menit, kami telah tiba di parkiran kampus. Salah satu universitas negeri yang cukup terkenal. Terlihat beberapa mahasiswa sibuk mengurus ini-itu. sepertinya memang ada event. Di tengah lapangan terpasang spanduk, “Selamat Datang di Zona Bazart Ceria”.
            Silvie segera menelpon kak Yufri. Tidak lama kemudian, kami pun menemui kak Yufri yang sedang sibuk mengurusi perlengkapan bazartnya. Melihat kami mendekat, kak Yufri menghentikan aktivitasnya dan menghampiri kami.
“Hai, Kak Yufri. Apa kabar? Kelihatannya sibuk banget.” sapaku.
“kabar baik. seperti yang kalian lihat. kami lagi buat bazart pencarian dana untuk korban banjir.”
“wah Sosialisme bangeet.” Silvie menimpali. Matanya tak pernah lepas memandang wajah Kak Yufri. Aku hanya tertawa kecil melihatnya.
            Setelah berbincang dengan kak Yufri kami berniat untuk berkeliling tapi langkahku terhenti ketika melihat sosok yang tengah berjalan kearah kami. Sosok yang tak asing. Sosok yang mengingatkanku pada setumpuk kenangan yang kini memenuhi pikiranku. Dia bernama Putra.
“Angelina, lihat siapa yang datang. Mantan loh.” Bisik Silvie.
“ah, apaan sih?” kataku sambil mengalihkan pandangan.
“selamat siang semua. ada tamu rupanya, udah lama disini?” sapa Putra.
“udah lumayan lama sih kak. kak Putra bareng Kak Yufri juga?” tanya Silvie. Putra memang setahun lebih tua dari kami. Mereka asyik berbincang sedangkan Aku lebih banyak memilih diam.
            Rupanya Putra menyadari kediaman itu, dia kemudian mengambil posisi duduk tepat disampingku. Hatiku berdesir. Ada getaran rindu yang tersirat disana. Ku beranikan diri untuk menoleh dan berniat menyapa. Namun aku tak bisa. Rasanya aku ingin pulang saja.
“Hai Angelina, gimana kabarmu? Udah lama juga kita tidak ketemu. Ingat nggak beberapa tahun yang lalu di tempat ini?” Putra membuka pembicaraan.
“aku baik. umm, iya aku ingat kok.” Dalam hati aku berkata, mana mungkin aku bisa lupa, tempat ini teralu banyak melukiskan sejarah.
“ahah aku kira kamu sudah lupa. Waktu begitu cepat berlalu yah. Rasanya aku rindu saat-saat itu. Tapi, sudahlah itu semua sudah jadi kenangan.”
“Kata Dee dalam novelnya, kenangan itu Cuma hantu disudut pikir. Selama kita Cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu. Nggak akan pernah jadi kenyataan.”
            Aku menoleh dan ku dapati ia tengah memperhatikanku. Tanpa sadar bibirku tersenyum. Dari sorot matanya mengandung makna yang dalam. Hatiku ikut berkata. ada masa merindukanmu, putra. Tak terasa hujan kini mewarnai pertemuan kami.
            Tiba-tiba terdengar seorang wanita memanggil nama Putra dari kejauhan. Putra melambaikan tangan kepadanya dan berpamitan kepada kami. Sebelum berpamitan, ia sempat memperkenalkan wanita itu. Namanya Tania dan dia adalah kekasihnya.
            Aku tak ingin terlihat menyedihkan saat mendengarnya. Dengan senyum yang ku buat seceria mungkin aku sedikit bercanda dengannya. Kemudian ia berlari pergi menghampiri wanita itu. Dan meninggalkan sejuta kenangan yang kini hanya sebatas dongeng masa lalu yang kan tetap menjadi hantu di sudut pikirku.
**The End**



Share:

0 komentar