Takdir, Cinta, dan Ketulusan
Sebenarnya tulisan ini bukan membahas
mengenai bagaimana itu takdir, apa itu cinta, dan seperti apa wujud dari
ketulusan. Namun, lebih kepada penjelasan terhadap pandangan yang sempat aku
terangkan kepada teman. Bukan seutuhnya pandangan pribadi hanya kutipan hasil
membaca buku fiksi kemudian terlintas dipikiran saat itu. Pandangan ini bermula
saat salah seorang teman saya bertanya. “pilih mana mau dijodohkan atau
mencintai?”. Tanpa basa-basi aku langsung menjawab mencintai. Beberapa detik
kemudian aku teringat akan sebuah buku dengan pembahasan yang serupa mencintai
dan dicintai. Sontak aku langsung berkata, akan ada tiga jenis lelaki yang
datang dikehidupan kita yaitu lelaki yang ditakdirkan untukmu, lelaki yang
mencintaimu, dan lelaki yang kamu cintai. Namun pilihlah lelaki yang
mencintaimu. Karena saat kita memutuskan memilih mencintai seseorang, maka kita
harus menerima resiko untuk tidak dicintai balik. Hati seseorang siapa yang
tau. Mungkin saja cintamu bertepuk sebelah tangan atau mungkin cintamu dibalas
dengan dusta.
Berani mencintai berarti berani untuk
tersakiti. Bukan tersakiti oleh cinta yang terpendam namun oleh kepekaan hati
yang begitu rapuh terhadap sikap yang tak terbalaskan atau bahasa kasarnya
cemburu. Salah satu penyakit hati yang berbahaya. Cemburu yang tak wajar. Akan
selalu timbul perasaan aneh setiap kali seseorang yang kau cintai lebih dekat
dengan yang lain di sekitarmu. Padahal dilain sisi, dirimu bukan siapa-siapa
untuknya. Selain rasa cemburu yang hadir menyakitkan, biasa juga beradu antara
hati dan logika. Baru saja dia mendekat dan memberi sedikit perhatian kepadamu
maka secara tidak langsung logika bermain menganggap semua itu adalah sinyal
pertanda cinta darinya. Padahal mungkin saja itu hanya sekedar perhatian kepada
teman, tidak lebih. Tanpa ada maksud dan tujuan apapun. Tinggallah perasaanmu
sendiri sepi. Apalagi kalau gebetan sudah ada yang punya, eww lengkap sudah
penderitaan.
Ketika kamu memilih lelaki yang
mencintaimu sepenuh hati, maka segala kerisauan yang terungkap diatas tak akan
kau rasakan. Bagaimana tidak? akan selalu ada perhatian tulus darinya. Meski
terkadang membuatmu sedikit risih oleh perhatian yang berlebih. Namun, tak ada
yang bisa menafikkan bahwa hati wanita butuh itu. Cepat atau lambat hal itu
akan disadari. Hanya soal waktu. Cinta seperti tanaman jika terus disirami dan
dipupuk maka dia akan subur dan tumbuh. Sebaliknya, jika tak dihiraukan maka ia
akan layu. Mungkin memerlukan waktu lama tapi begitulah cinta, hanya perlu menghargai
sebuah ketulusan. Begitupun dengan lelaki yang ditakdirkan untukmu. Lelaki yang
selalu ada disaat kau membutuhkannya. Seseorang yang sering mendengar
curahanmu. atau seseorang yang mengerti kamu. Semua ini bukan berarti Tuhan
mengirim dia untuk menjadi pendampingmu. Mungkin saja dia hanya menganggapmu
sebagai saudara. Oleh karena ruang hati yang menyimpan sebongkah nama. Finally,
belajarlah mencintai seseorang dengan ikhlas. Karena terkadang cinta butuh
pengorbanan.

0 komentar