Tentang Sebuah Penantian
“Apakah sama seseorang yang menikmati
cinta dalam diam dengan seseorang yang menikmati cinta dengan seutuhnya? Tentu
tidak! Namun bukan berarti seseorang yang menikmati cinta dalam diam tidak
seindah menikmati cinta dengan seutuhnya”, -Panji Ramdhana_
Terpendam. Begitulah setiap detik rasa yang tercipta untukmu. Hanya bisa menetap didasar hati. Menumpuk membiarkannya mengendap. Tak ada gelombang yang mampu membawanya ke permukaan. Kadang goyah oleh guncangan namun masih terombang. Rasa yang bermetamorfosa hanya bisa ku sembunyikan dalam diam. Meski hari kian menambah kegelisahan. Tak seperti kebanyakan insan yang berharap akan dipahami. Aku khawatir, kau akan mengerti.
Langkah yang terus menapaki temu, bisa menipu. Namun, mata yang memandang khawatir kan memancarkan sinyalnya. Bahwa ada kerinduan tiap kali melihatmu. Akan ku sampaikan tiap titik rindu yang terlukis itu dalam doa. Sebab hanya lewat doalah, caraku menyampaikan rindu untukmu. Beginilah aku menikmati cinta. Dalam kesetiaan menjaga sepi, diam, dan bungkam. Tak ada daya bagiku mengungkapkan. Karena cinta tentang hati yang mudah terbolak-balikkan waktu jika hanya sekedar diadu. Biarlah sepotong hati ini mengadu padaNya. Berharap kuasaNya mampu meneguhkan hati untuk memberi ruang istimewa dalam dirinya. Bersabarlah dengan keyakinan.
Jangan bertanya kapan aku mulai mencintainya, karena aku pun enggan tuk menjawab. Hati ini milikNya. Dialah yang berkuasa atas rasa yang hadir padaku. Mungkin rasa ini juga dititipkan atas munajat doa yang kamu panjatkan atau sebaliknya. Percayalah, aku menikmatinya meski dalam diam. Kesendirian yang mewarnai hariku bukan alasan untuk mendambakanmu. Aku ingin bersamamu dengan keridhaan. Hingga waktu itu tiba, aku akan tetap disini. Menunggu. Menjaga hatiku untuk tetap seperti ini. Teruslah berdoa dan teguhkan hatimu. Kesabaran kita akan mengantarkan pada hakikat yang indah. Percayalah penantian…

0 komentar